Anime Kapten Tsubasa Menjadi Inspirasi Pemain Bola

Bagi anda yang lahir di tahun 90 an pastinya mengenal dengan Kapten Jepang yang satu ini, yang salag piawai dalam bermain sepak bola dan terkenal dengan tendangan Halilintar yang ada dalam Sinetron Anak-anak yakni Kapten Tsubasa.

Anda pasti sudah tak asing dengan kartun sepakbola terkenal asal Jepang, Kapten Tsubasa. Kartun ini menceritakan tentang seorang anak berusia 11 tahun, Ozora Tsubasa, yang memiliki kemampuan luar biasa dalam sepakbola yang kemudian dilatih pelatihnya, Roberto Hongo, menjadi pemain kelas dunia. Karakter pesepakbola yang digandrungi anak-anak pada masanya ini pertama kali digagas oleh Yoichi Takahashi pada 1981 berupa komik (manga) yang rilis di majalah Weekly Shonen Jump (Shueisha) hingga 1988.

Komik tersebut dengan cepat meraih popularitas tinggi hingga tak butuh waktu lama bagi rumah produksi Tsuchida Production untuk mengadaptasinya menjadi sebuah serial anime di layar kaca pada 10 Oktober 1983. Serial tersebut kini juga sudah tayang dengan berbagai versi sulih suara di dunia, termasuk di Indonesia. Serial ini juga menjadi inspirasi bagi beberapa pesepakbola internasional seperti Lionel Messi, Andres Iniesta, Fernando Torres, hingga pemain gaek Italia, Alessandro Del Piero yang dikenal di situs judi bola yang menjadikan karakter tersebut sebagai motivasi mereka menjadi pesepakbola hingga saat ini.

Sekarang, Anda bisa merasakan sensasi jurus tendangan-tendangan unik yang ada pada kartun tersebut. Terobosan inilah yang digagas sang kreator kartun tersebut bekerja sama dengan Sony Research Development Technology bertajuk “Super Experience Stage: Captain Tsubasa” yang akan dipentaskan di Zepp Blue Theater, Roppongi pada 18 Agustus hingga 3 September 2017 dalam 23 pertunjukan.

Para pemeran untuk theater tersebut adalah Motoiki Seiya yang memainkan karakter utama, Tsubasa Ozora, Ryusuke Nakamura sebagai Genzo Wakabayashi, Yuho Matsui (Kojiro Hyuga), Ko Kanegai (Taro Misaki), Shuto Washio (Jun Misugi), Soichiro Soriyashi (Hikaru Matsuyama), Kazumi Doi (Makoto Soda), Kato Mao (Jun Nitta), dan Koki (Hiroshi Jito).

Pertunjukan ini disutradarai Kenichi Ebina atau disapa “Ebiken”, seorang koreografer dan penari terkenal yang pernah memenangkan ajang pencarian bakat “America’s Got Talent”. Ia juga akan dibantu Tsuyoshi Kaseda, bertindak sebagai penulis cerita dan asisten sutradara serta Kazuya Matsunaga (juga seorang anggota Jepang dari Cirque du Soleil) yang bertindak sebagai koreografer.

Pertunjukan yang ditampilkan bukan sekadar theater biasa, namun dengan teknologi khusus. Mereka mengadopsi teknologi yang disebut teknologi “haptic sense”, sebuah teknologi yang memungkinkan penonton untuk dapat merasakan “getaran” langsung dari jurus tendangan karakter Kapten Tsubasa. Selain melalui gerakan bela diri, tarian khusus dan teknik ilusi komputer, penggunaan teknologi Virtual Reality (VR) terbaru juga digunakan untuk membuat sensasi jurus tendangan para pemain menjadi nyata.

Pertunjukan ini bisa dinikmati dengan merogoh kocek 12,800 yen (sekitar 1,5 juta rupiah) untuk sekali pertunjukan. Teknologi “haptic sense” mampu menyimulasikan berbagai macam rasa seperti merasakan sentuhan benda dengan cara menstimulasi indera perasa mereka. Nantinya, penonton akan memakai sensor haptic yang tersedia di theater tersebut dan merasakan berbagai macam getaran, tergantung dari jurus yang diperagakan.